Saturday, 3 January 2015

It's life, It's love!


Orang bilang jatuh cinta itu berdasarkan criteria yang kita inginkan. Contohnya temen gue yang satu ini, namanya Dandy, dia Playboy no.1 di sekolah, kriteria cewe idealnya antara lain 1. Harus berambut panjang dan wangi, 2. Harus berkulit putih dan gak terlalu pendek, proporsional gitu deh, 3. Harus pinter supaya bisa bantu dia ngerjain PR, 4. Harus banyak duit alias tajir, jadi kalau dia lagi bokek bisa pinjamin dia duit, 5. Harus cantik 6. Harus bermata indah 7. Harus yang idungnya mancung 8. Harus bergaya bak model 9. Harus popular dan masih banyak lagi kriterianya. Tapi herannya, ada aja dia cewenya, kalau habis putus pasti sebelum tiga hari udah dapat gantinya. Tapi kalau gue...

"Gue gak tahu tipe cewe ideal gue kayak apa?"

"Aduh, masa sih seorang Adrian Pratama Aditya gak tahu tipe ideal cewenya seperti apa?Pantesan aja lo jomblo terus."

Gue Cuma bisa diem saat diomelin panjang lebar oleh Mr.Playboy ini.

"Jangan bilang ke gue kalau lo masih gak bisa ngelupain cinta pertama lo itu. OMG Helllooooo… Dri... cinta pertama lo itu cuma cinta monyet, cinta anak SD kelas 1. Dan sekarang lo itu udah kelas 2 SMA, bentar lagi udah mo naik kelas 3 trus lulusan trus kuliah. Kalau lo terus terjebak dalam kisah cinta monkey lo itu, kapan lo bisa punya pacar? Gebetan aja gak punya… yang ada ntar lo bisa jadi Perjaka Tua alias Bujang Lapok yang tak laku-laku…"

"Lo kebanyakan nonton film P.Ramlee sih…"

"Aduh, gue itu serius sob… gimana kalau gue kenalin lo sama temen-temennya Rasty, temen-temenya Rasty itu maaaannnn, wow banget!" 

Dunia seolah membisu tanpa suara, bahkan suara dari bacot si Dandy juga seolah tak terdengar. Mataku hanya tertuju pada sosok yang melintas di depanku ini. Gue belom pernah liat dia disekolah ini? Dia anak baru ya? Kelas berapa? Pindahan darimana? Sejuta pertanyaan datang di otak gue, namun seketika ia hilang dari pandanganku, dan dunia seolah kembali normal seperti sedia kala. 

"Dri… Dri… lo dengerin gue ngomong gak sih?"

"Ah? Enggak…”Cuma itu jawaban yang bisa gue berikan dan jujur.
Dikelas…
"Anak-anak hari ini kalian kedatangan teman baru, silahkan masuk…"kata Bu Ranti

Seorang gadis berjilbab berseragam sma dan berjilbab putih melangkah masuk kekelas. That’s her! Itu cewe tadi yang gue lihat… 

"Perkenalkan diri kamu sama teman-teman…"perintah Bu Ranti

"Perkenalkan nama saya Aysa Fathirah Basha, cukup panggil Aysa, saya pindahan dari Kalimantan. Semoga kita bisa menjadi teman baik."

"Jangankan teman, jadi pacar kamu saya juga mau.”kata Adit membuat seluruh isi kelas tertawa. 

"Aysa, kamu boleh duduk dibangku yang kosong itu yang disebelah Fadilah.”kata Bu Ranti

OMG, bangku kosong itu artinya dia duduk di depan gue dong. Kok gue jadi salah tingkah gini sih? Jantung gue kaya habis lari muter keliling lapangan sepak bola sepuluh kali.
"Dri, ini jatah gue ya…”kata Dandy sambil berbisik ditelinga gue.
What? Enak aja tuh bocah, dia piker nih cewe barang apa main di tag aja.
Tapi,… cewe ini, kenapa perasaan gue dia ini gak asing ya? Hemmm, mungkin karena tadi gue udah ngeliat dia kali. Yah, pasti begitu!

***
Dikamar yang serba pink itu seorang gadis sedang menuliskan diary nya…

"Dear diary, hari ini aku melihatnya. 
Melihat sebuah keajaiban Tuhan. 
Siapa sangka aku akan menemukan seseorang dengan nama yang sama persis seperti bocah itu?
Apa itu memang dia, diary? 
Ataukah mereka hanya memiliki nama yang sama? 
Hmmm, entahlah diary.. 
Andai saja, maka aku akan biarkan waktu yang menjawabnya. 
Good night, Diary.” 

***
"Ma, sebelum tidur jangan lupa minum obatnya ya…"pesan papa via telefon
"Iya Pa nih udah dikasi obat sama calon dokter Adrian, papa kapan pulang?"

"Besok papa kaan pake pesawat penerbangan pertama ma, jadi mama gak usah khawatir, papa akan pulang cepat besok. Mama mau oleh – oleh apa dari Singapura?"

"Mama gak mau apa-apa pa… Mama Cuma mau papa pulang selamat dan gak kurang satu apapun."

"Amin. Ma, tolong telfonnya kasi ke Adrian, papa mau bicara."

"Adrian…"
"Iya Pa."

"Tolong jagain mama kamu ya, obatnya jangan lupa, besok papa pulang dengan pesawat penerbangan pertama."

"Perlu aku jemput pa?"

"Gak perlu, nanti biar Pak Amat yang jemput papa, kamu sekolah aja, tapi jangan lupa obat mama kamu buat besok pagi."

"Iya Pa..."

"Ya udah sekarang kasi telfonnya ke mama"

"Ma, papa mau ngomong sama mama…"

"Iya Pa"

"Ma, sekarang mama tidur ya… I love you honey"

"I love you too”
"Cieee, mama sama papa mesra terus… “
"Kamu tuh ngeledek aja… kamu tidur sana, besok kamu harus sekolah."

"Okay deh ma… Good Night ma…"

***
"Dri… gue udah kirimin dia sms 100 kali tapi gak pernah dibalas, gue telfon gak pernah diangkat, itu yang dikasi Fadilah ke elo beneran nomor Aysa bukan sih?"curhat si Dandy

"Yah mana  gue tahu, kan lo sendiri liat pas Fadilah kasi ke gue, teru pas Fadilah pergi lo langsung nyamber tuh kertas yang ada nomor teleponnya. Gue aja gak sempat liat tuh nomor telepon."

"Lagian buat apa lo liat juga. Kalau mau lo ama Fadilah aja, tapi Aysa buat gue."

"Wah, stress lo ya… masa abis putus dari Ranti kemarin sore hari ini lo mau pacarin Aysa."

"Loh? Why not?"

"Yah lo liat aja, Aysa kan pake jilbab tuh gak kaya mantan-mantan lo, kok tiba-tiba lo jadi alim gini?"

"Hahaha, itulah yang namanya cinta mamen, cinta itu…"

"Dari mata dan jatuh ke hati, itulah cinta yang sesungguhnya.. gue udah dengar kata-kata yang sama sebanyak 225 kali dari 20 cewe yang udah lo pacarin…kata-kata lo selalu sama mamen, gak kreatif."

"Yeee, biarin gak kreatif tapi masih mending punya pacar, daripada lo jomblo terus dari era kolot sampe era robot…"

Gue berlalu tinggalin si Dandy dengan masalahnya namun rasanya seperti ada yang memperhatikan gue deh, tapi pas gue balik badan kok gak ada siapa-siapa. Hem, mungkin perasaan gue aja kali. 

***
"Hem, untung pas lo kasi nomor itu ke Adrian gue liat kalau ternyata yang minta nomor gue tuh si Dandy."

"Emang kenapa kalau Dandy? Dandy itukan cowo popular disekolah ini Ay, Dandy juga tampan dan berbakat."

"Iya sih, berbakat, berbakat buat jadi Playboy cap Buaya. Lagian gue gak tertarik kok sama cowo kaya gitu, meding buat lo aja Dil."

"Lo masih Ngarepin pangeran masa kecil lo itu ya… sapa tuh namanya? Adri? Yang nolongin lo pas lo jatuh ditangga pas lo masih SD. Iyakan?"

"Haha, gue gak tahu Dil, Gue pasrah aja, jodoh itu ditangan Tuhan."jawab Aysa senyum senyum.

"Ay, Gimana kalau Adri lo itu ternyata si Adrian?”Tanya Fadillah dengan wajah yang agak ragu-ragu
"Kenapa muka lo gitu?"tanya Aysa balik

"Gak, Cuma nanya aja, sapa tahu iya, kalau gue sih mending Dandy kemana-mana daripada Adrian."

"Kenapa?"

"Adrian itu terkenal cool banget. Katanya Adrian itu pemilih banget, tipe ideal cewe dia itu loh… " katanya harus yang seksi gitu.
***
"Oh, cewe seksi yang gue bantuin waktu itu? Kenapa emangnya?"

"Gak, kan lo punya nomornya tuh…"

"Punya, dia juga sering sms in gue"

"Trus?"

"Trus apa?"

"Masa sih lo gak tertarik sama cewe secantik and seseksi itu?"

"Gak!"

"Wah, jangan – jangan ada yang gak beres sama lo, coba deh lo periksa ke dokter, gue ngeri jadinya mo deket-deket lo."

"Kenapa ? lo percaya sama kabar angin yang gak jelas itu?"

***
"Menurt kabar angin nih, ada juga yang bilang kalau dia itu emang cool tapi dia … Gay?"lanjut Dilla

***
"Selama ini apa pernah gue megang megang lo?"

"Gak"

"Apa pernah gue bilang cinta ke elo?"

"Gak"

"Apa pernah gue nyium lo?"

"Gak"

"Apa pernah gue mesra-mesraan sama lo?"

"Gak juga, tapi Dri… lo itu gak pernah deket sama cewe manapun."

"Ah, udah ah kalau lo gak percaya. Males gue ngomong sama lo!"

***
"Lo gak percaya?"

"Gak!"jawab Aysa tegas

"Yah, terserah sih, yang penting sebagai teman yang baik gue udah ingetin lo."

*** 

Didalam ruang kerja dirumah papa tampak sedang melakukan pembicaraan via telepon dengan seseorang.
"Iya pak… 
"saya percayakan semua sama bapak, 
"persiapan di singapura nanti tolong dipersiapkan segalanya dengan baik. 
"Dan tolong rahasiakan ini dari siapapun, termasuk anak dan istri saya. 
"Saya tahu waktunya sebentar lagi, karena itu saya akan mempersiapkan semuanya. 
"Okay, thank you…”Papa menutup telfon dan menangis.

"Papa…"

"Audrey?"

"Kok Papa nangis?"

"Sini sayang…"Audrey duduk di pangkuan papa

"Audrey sayang, Audrey sayang sama mama sama papa gak?"

"Sayang"jawabnya singkat

"Kalau gitu Audrey harus janji jadi anak yang baik, harus selalu jagain mama jangan sampai mama sakit."

"Mama sakit gara gara aku ya pa?"

"Bukan kok sayang…"

"Kenapa gak papa aja yang jagain mama?"

"Papa akan selalu menjaga kalian semua kok. Malah papa akan jaga kalian pake teropong bintang."

"Papa mau beliin Audrey teropong bintang? Janji?"

"Janji sayang, jadi kalau kamu kangen sama papa, kamu bisa liat bintang-bintang dilangit supaya gak kangen lagi"Audrey memeluk papa tapi matanya juga tampak berlinang.

***

"Okay anak-anak sekarang ibu minta kalian buat kelompok 4 orang dan kerjakan latihan halaman 73, kalian bisa bergantian dengan anggota keompok untuk mencari buku sebagai referensi di perpustakaan, 2 orang tinggal dikelas, 2 orang lainnya ke perpustakaan, nanti setelah dua orang dari perpustakaan kembali, yang dua lagi silahkan ke perpustakaan jika masih ada buku yang kalian perlukan."

"Baik bu…."

"Aysa, gimana kalau kita satu kelompok?”kata Dandy. 

Gak sengaja mata gue dan matanya beradu pandang.

"Boleh-boleh,”jawab Fadillah
"Gue gak nanya lo."kata Dandy
"Yeee, masalah gitu buat loh."balas Dilla sewot

"Ya udah, kita berempat satu kelompok aja." Kata Aysa. 

"Aysa, kita ke perpus duluan yuk, nanti biar Adrian sama Fadillah."ajak Dandy

Gue Cuma bisa diam dan lagi mata kami beradu pandang, namun dia segera mengiyakan ajakan Dandy.

***
"Ay, gue udah dapet beberapa buku nih…"

"Good"

"Ay,…"

"Apa?"

"Lo kan cantik tuh masih muda lagi, tapi kok lo mau sih pake jilbab? Pasti karena sekarang lagi tren hijab aja kan? Gue yakin lo pasti cantik banget kalau gak pake jilbab lo itu."

Pemandangan apa yang ada dihadapan gue kali ini? Gue bukannya sengaja memata-matai mereka.Tapi Aysa tampak terdiam menatap Dandy. Gue melihat jelas ketika Dandy dan Aysa saling bertatapan dan kenapa rasanya ada yang pedih di hati gue? Gue gak sanggup lihat situasi ini, dan gue putusin untuk balik ke kelas.

"Dandy, saya rasa ini adalah pertama kalinya saya berbicara lebih dari satu kata kepada anda. Saya tidak tahu berapa nilai mata pelajaran agama anda. Tapi yang tahu, siapapun tahu kalau seorang perempuan wajib menutp auratnya termasuk rambutnya. Itu adalah kewajiban bukan pilihan. Saya tidak tahu apa yang ada didalam otak anda, tapi saya mohon berhenti untuk coba-coba mendekati saya, stop sms saya, stop nelfon saya. Maaf, saya duluan." Aysa meninggalkan Dandy yang terpaku bak patung. 

"Oya satu lagi yang harus saya sampaikan, untuk dunia ini kita bisa saling tolong menolong, tapi untuk akhirat kita masing masing.Dan ini bukan tren."kata Aysa

*** 

"Aysa kembali ke kelas seorang diri."

"Dandy mana Ay?"tanya Dilla

"Masih di perpus."

Namun tak lama, yang dibicarakan muncul dengan wajah pucat.

"Lo kenapa?"gue sebenarnya pengen cuekin aja cuma gak tega juga liat teman sendiri.

"Gue gak papa.”kata Dandy. Gue merasa seperti ada sesuatu hal yang terjadi diantara mereka berdua.
***
Biasanya sepulang sekolah Dandy selalu nungguin gue, tapi hari ini dia pulang duluan, gak tahu deh kenapa tuh anak. 

"Adrian!" Ternyata Aysa di belakang gue.

"Ada apa?"
"Ini bukunya Dandy, tadi ketinggalan dikelas pas gue mo balikin dia udah gak ada."

"Kenapa gak lo balikin sendiri aja?"

"Lo kan temennya."

"Tapi lo kan pacarnya"

"What?"

"Gue liat kok lo berdua di perpus tadi. Pake jilbab tapi saling tatap lama kaya gitu. Gak baik uat lo nya!"

"What???”Aysa melemparkan buku Dandy  ke gue, dan itu bikin gue shock, dia berlalu pergi gitu aja. Tiba-tiba perasaan bersalah menyeruak di hati gue, 
“aduh kok gue ngomong gitu sih?” tiba-tiba Aysa udah ada dibelakang gue lagi. 

"Gue sengaja balik lagi karena harus ada yang gue omongin ke elo! Ternyata bener ya apa yang mereka bilang tentang lo! lo itu aneh, lo sama temen lo sama gilanya, yang satu sibuk ngoreksi penampilan orang, yang satu nya lagi sibuk menjudge orang padahal dia gak tahu apa-apa. Kalian fikir apa? Kalian fikir kalian juri pencarian bakat? Asal lo tahu, kadang apa yang kita lihat bukanlah sebenarnya apa yang kita lihat.” Aysa berlalu. Dan semenjak itu. Aysa benar-benar tidak pernah bicara dengan gue ataupun Dandy, bahkan tersenyum pada kami pun tidak.

Jika kami berpapasan di perpustakaan atau di kantin, ia lebih memilih menghindar dan menghilang dari pandangan kami. Perasaan bersalah ini semakin menyesakkan dada.

"Dandy, sebenarnya lo sama Aysa kenapa sih?"

"Gue sama Aysa gak ada hubungan apa-apa. Gue gak pernah sms atau nelfon dia lagi. Untuk menatap wajahnya aja gue gak berani, malu mamen."

"Kenapa?"

"Lo inget gak waktu gue berdua ke perpustakaan?”Dandy pun menceritakan semuanya dan gue semakin merasa bersalah dan gak bisa berkata apa-apa.

“Ya Tuhan, apa yang udah gue lakuin?” gue berjalan sempoyongan tanpa tujuan, bahkan gue gak tahu arah menuju kelas gue sendiri.

"Adrian… ngapain lo disini? Inikan toilet cewe?”kata Fadillah. Dan gue tersadar ternyata gue malah nyasar ke depan Toilet cewe untung belom masuk kedalam.

"Dil, liat Aysa gak?"

"Oh, Aysa… hari ini dia gak masuk, soalnya persiapan buat lomba Talent Show sekolah kita besok.”

"Dia ikut juga?"

"Iya, masa lo gak tahu sih? Hemmmm, wajar sih…gue perhatiin lo, Dandy sama Aysa kok kaya orang lagi berantem gitu, saling gak tegoran yah?"selidik Dilla

"Ceritanya panjang Dil…”gue certain semua yang terjadi sama Dilla dan ia Nampak sedikit kesal.

"Sekarang lo udah bilang minta maaf ke dia atau belom? telfon atau sms minta maaf gitu?” Gue Cuma bisa menggeleng. 

"Sekarang gue ngerti kenapa Aysa marah banget sama kalian. Yah wajar aja dia marah, lo berdua gila sih, yang satu udah kaya komentator busana, yang satu komentar tentang hidupnya dia, lo berdua mau jadi komentator sepak bola atau acara pencarian bakat sih? Asal lo tahu ya, Aysa itu gak mungkin mau pacaran sama orang lain karena masih belom bisa ngelupain cinta pertamanya si Adri Adri itu…”tiba-tiba gue kaget setengah mati 

"Maksud lo apa Dil?"

"Aduh gue keceplosan…gak bisa dijaga banget sih nih mulut gue!"Dilla memukul mulutnya sendiri

"Dil bilang ke gue…. Apa yang lo maksud cinta pertama Aysa itu anak kelas satu SD? Apa Aysa pernah jatuh dari tangga dan ditolongin sama anak laki-laki dan anak laki-laki itu yang lo maksud cinta pertamanya Aysa.?" Dilla agak terkejut namun ia hanya mengangguk tanda bahwa semua yang gue katakan itu benar.

"Ya Tuhan… apa yang udah gue lakuin selama ini?"

***
Di balkon atas...

"Kok tumben sih pa?"

"Tumben apanya? Kita emang biasa begini kan?"
"Iya sih biasa tapi kan biasanya papa gak bolos kerja Cuma buat santai dirumah?"
"Sekali-kali boleh dong ma… lagian papa kan nanti bakal lama gak bisa meluk mama." Mama nampak sedikit terkejut dan melepaskan pelukan papa

"Maksud papa apa? Emang papa mau kemana? ke luar kota?"

"Iya ma, papa harus ke luar Singapura, ada proyek besar yang harus papa tangani disana."

"Kenapa gak suruh anak buah papa aja sih?"

"Gak bisa gitu dong ma, ini kan bukan proyek sembarangan dan bukan klien sembarangan loh. Udah mama sini deh ... papa masih pengen peluk istri papa tercinta yang super gemesin ini." Mama kembali dalam pelukan erat papa.

"Berapa lama papa pergi nanti?"

"Belom tahu sih ma, tapi papa akan secepatnya menyelesaikan semua urusan papa disana. Kalaupun harus lama disana, nanti papa akan bolak balik deh seminggu sekali. Kalau perlu, nanti mama akan papa ajak kesana."

"Gak usah pa, gak apa-apa kok. Mama gak mau jadi beban buat papa disana nanti." Kali ini giliran papa yang melonggarkan pelukannya dan memegang kedua pipi mama.

"Ma, mama itu gak pernah menjadi beban untuk papa. Gak pernah sedetikpun mama menjadi beban bagi papa. Mama itu adalah bulan yang menerangi malam-malam papa, mentari yang menemani hari-hari papa, bintang yang selalu menghiasi kehidupan papa.” Papa kembali memeluk mama dengan erat

"Ma, papa mungkin gak bisa bikin kata-kata yang bagus buat mama, tapi papa Cuma ingin mama tahu kalau papa sangat mencintai mama, sejak dulu, sekarang dan nanti, bahkan sampai maut memisahkan kita.”

"Pa, terima kasih."

"Terima kasih?"

"Terima kasih untuk cinta yang begitu besar buat mama."

"Seharusnya, papa yang berterima kasih, karena mama sudah hadir ke dalam kehidupan papa. Terima kasih untuk menjadi mama bagi anak-anak kita. Apapun akan papa lakukan untuk mama karena cinta papa ke mama lebih dari apapun, dan terima kasih karena memilih papa daripada memilih si Playboy kunyuk itu. "

Mama tertawa dan papa mempererat pelukannya seperti memeluk sebuah boneka kesayangannya.
"Mama tahu gak, sebenarnya bukan mama yang jatuh cinta duluan sama papa. Tapi papa yang jatuh cinta duluan sama mama. Sejak hari pertama mama pindah ke sekolah kita, mama udah menarik perhatian papa. Tapi papa Cuma bisa mencintai mama diam-diam."

"Karena mama dulu jelek yah?"

"Haha, bukan ma… karena papa takut kalau mama terluka. Kan mama tahu papa itu dulu paling banyak fans nya"

"Papa mulai narsis deh… "

"Papa suka mama apa adanya, namun ketika mama berubah hari itu, hati papa rasanya sakit sekali."

"Kenapa? Karena papa yang lebih dulu cinta sama mama, tapi si Playboy kunyuk Randy itu naksir mama juga pas liat mama jadi cantik gitu. Mama juga mau lagi pacarnya, bikin hati papa tambah sakit. Mana anaknya sekarang jadi temennya anak kita lagi, nama juga gak jauh beda, Randy bapaknya si Dandy"

"Papa mulai deh... Kan Cuma sebentar pa, itu juga semua gara-gara papa kan."

"Kok gara-gara papa?"

"Iya dong, kan papa yang nyampein ke mama kalau si Playboy kunyuk itu nembak mama, mama masih inget loh pa…"

"Iya sih tapi mama jawab iya juga…"

"Abis mama udah terpesona sama papa, jadi mama pikir papa yang nembak papa, eh tahunya malah nongol tuh manusia di belakang papa."

"Trus kenapa mama putus dari dia?"

"Mama bilang ke dia, kalau mama ngerasa gak nyaman kaya gak menjadi diri sendiri. Diri mama yang sebenarnya adalah Dinanti yang selalu di kepang dua rambutnya, Dinanti yang selalu pakai kaca mata besar bukan lensa kontak, Dinanti yang suka merhatiin Hendri dari kejauhan ketika dia sedang main basket."

"Ehmmmm unyunya cayangku ini…"

"Pa, apaan sih…kaya anak alay deh kalau kata anak muda jaman sekarang"

"Yah ga papa dong ma, alay sama mama ini."

Dari kejauhan aku dan Audrey sangat asik memperhatikan kebahagiaan dan kemesraan orang tua kami.

"Ma, papa berdoa sama Tuhan semoga Adrian dan Audrey bisa seperti kita ya… "

"Iya, pa… Mama juga berdoa semoga mereka dimudahkan dalam segala hal termasuk dalam menemukan cinta mereka."

"Ma, terima kasih untuk cinta mama yang tidak pernah ada syarat apapun sehingga papa bisa memiliki mama sebagai pendamping hidup papa. Terima kasih karena menjadikan cinta kita sempurna, Dinanti yang selalu kunanti sejak dulu kini dan juga nanti. I love you Dinanti."

"I love you too, Hendri Pratama Aditya."

Papa dan mamaku berpelukan erat seolah mereka tak terpisahkan. Kisah cinta mereka, Cerita cinta mereka yang tulus seolah membuka mataku. Apa yang telah kulakukan pada Aysa? 

Audrey berlari ke kamarnya. Adik perempuanku satu-satunya yang masih duduk di TK. Jangan heran kenapa jarak usia gue sama adik gue beda jauh. Orang tua gue udah sangat menyayangi gue, mereka gak mau gue merasa kurang kasih sayang, karena itu mereka menunda untuk punya anak lagi sampai gue bisa ngerti keadaan dan menerima jika kelak gue punya adik. Nah, pas gue naik kelas 2 SMP, gue gak minta hadiah apa-apa, tapi gue minta adik baru, dan pas gue naik kelas 3 SMP kesampaian deh punya adik baru, cewe lagi. Audrey Pratama Aditya, she’s my princess, kalau ada yang macem-macem hadapin dulu abangnya yang ganteng ini.

Tapi hari ini Audrey tampak murung dan gue menghampiri sang princess ke kamarnya.

"Audrey sayang, kok cemberut…"

"Kak, tadi di sekolah aku pengen main sama Tania, tapi Tania bilang gak boleh, katanya kalau mau main sama Tania ada syaratnya."

"Syaratnya apa?"

"Katanya harus pake bando Hello Kitty, aku kan gak suka Hello kitty, aku sukanya Doraemon."

"Audrey sayang, kenapa kamu suka sama Doraemon?"

"Doraemon itu baik kak, dia selalu bantu nobita, gak ada sayaratnya lagi."

"Nah, kamu boleh kok jadi temannya Tania, karena persahabatan itu gak ada syaratnya, kaya Doraemon sama Nobita gitu."

"Tapi Tania gak mau temenan sama aku"

"Mungkin Tania nya sedang sibuk, emangnya temannya Audrey Cuma Tania?"

"Enggak, ada Cheryl, Chelsy, Dinda, Wulan, Yuda, Fikih."

"Nah tuh temennya Audrey ada banyak, sekarang mainnya sama mereka aja dulu, nanti baru main sama Tania. Pasti nanti Tania mau kok jad temannya Audrey. Audrey jangan sedih lagi ya…"

"Okay kak… Kak,.."

"Ya ada apa lagi?"

"Mama sakit gara-gara aku ya?"

"Siapa bilang?”Audrey Cuma menggeleng. "Audrey, mama sakit bukan karena Audrey, mama itu sakit jantung sayang… bukan sakit gara gara Audrey."

"Papa bilang papa akan jagain kita semua dari bintang"

"Iya, itu pasti, papa pasti akan jaga kita semua”dalam fikiran gue ada-ada aja deh papa masa mo jagain kita dari bintang.

***

"Okay, itulah tadi penampilan dari peserta no.16, dan yang terakhir adalah peserta no.17, marilah kita sambut… Aysa Fathirah Basha."

Aysa tampil menyanyi dengan piano menyanyikan lagu Untukmu Aku Bertahan milik Afgan 
Dia menyanyikannya sepenuh hati dan dengan suara merdunya dia sudah membius semua mata di ruangan itu, termasuk gue. 

Gue perlahan mundur kebelakang dan tiba-tiba handphoneku berdering… Papa.

*** 

Seminggu kemudian…

"Dil, kok gue udah seminggu gak liat Adrian?"

"Oh, lu masih suka merhatiin Adrian diem-diem ya? Cieeeee…"

"Apaan sih Dil… udah jujur aja, dia Adrian yang lo cari kan?"

Aysa hanya tersipu malu. Namun tiba-tiba Dandy datang tiba-tiba dengan nafas tak beraturan.

"Gue tahu dimana Adrian sekarang…"

***

"Dan, kok kita ke pemakaman gini sih?"Tanya Fadillah

"Nanti juga lo tahu sendiri…"

Dandy Aysa Dilla tiba di sebuah pusara bertuliskan nama Hendri Pratama Aditya. Dan disitu Adrian sedang duduk mendoakan papanya.

"Dri…"

"Eh, kok kalian bisa kesini!"

"Lo tuh jahat banget sih, kenapa lo gak pernah kasi tahu gue kalau lo sedang tertimpa musibah. Apa gue bukan temen lo? Apa perlu gue kumpulin persyaratan lamaran serta CV buat jadi temen lo? Tega ya lo…”namun Dandy malah memeluk gue.

Gue tersadar kalau disitu juga ada Aysa dan Dilla dan gue buru-buru melepaskan pelukan Dandy.

"Dri… kami turut berduka cita ya…"

"Makasih Ay…"

"Dri, sekarang keadaan nyokap sama adik lo gimana?"

"Nyokap sebenarnya masih shock dan terpukul tapi dia janji akan lebih kuat karena bokap akan selalu sama-sama nyokap. Gue gak pernah nyangka dan sama sekali gak ngira kalau bokap gue punya penyakit kanker otak stadium 4, dia sering ke luar negeri bukan urusan bisnis tapi untuk berobat dan sekaligus mempersiapkan diri buat jadi pendonor jantung buat nyokap gue. Bagi bokap gue, nyokap gue lebih tegar dan tanggu daripada dia. Dia yakin kalau anak-anaknya akan baik-baik saja kalau ia tinggalkan, tapi bokap gak yakin kalau nyokap yang ninggalin kita, mungkin kami semua bisa hancur. Karena itu bokap mutusin buat donorin jantungnya, apalagi setelah tahu dia mengidap kanker ganas."

"Trus adek lo?"

"Audrey, dia adalah orang pertama yang tahu semua ini. Gue gak nyangka adik gue bisa jauh lebih tegar daripada gue, dia bilang dia harus nepatin janjinya sama papa untuk jadi anak baik dan jagain mama, karena papa janji akan selalu melindungi kita dari bintang disana. Dasar guenya aja yang begok gak mikir ke arah sana waktu adek gue cerita soal janji papa itu."

"Ya udah, lo yang tabah ya Dri…"

"Btw, kok kalian bisa bertiga kesini?"

"Mereka udah baikan kok Dri…”kata Dilla. "Dan, temenin gue yuk, handphone gue ketinggalan di mobil."kata Dilla yang sengaja ingin meninggalkan Adrian dan Aysa

"Hah? Bukannya ada di tas lo?"

"Aduh ayo deh temenin gue”Dilla sepertinya sengaja menyeret Dandy dan meninggalkan gue berdua dengan Aysa.

"Ay…"

"Dri…" kompakan memanggil satu sama lain.

"Duluan aja”kata Aysa

"Gue minta maaf soal waktu itu,"

"Iya gak apa apa, gue juga minta maaf…"

"Ay, gue boeh Tanya sesuatu?"

"Boleh"

"Lo, anak cewe yang jatuh di tangga waktu SD itu ya?"

"Kok lo tahu? Pasti Dilla cerita nih..."

"Iya sih Dilla yang cerita, tapi gue emang lagi nyari dia, anak cewe yang pernah gue tolongin."

"Jadi? Lo Adri…yang nolongin gue waktu itu?"

Gue Cuma mengangguk

"Jadi, gue cinta pertama lo?"

"Menurut lo?"

"Menurut gue, iya. Karena lo juga cinta pertama gue dan akan jadi cinta terakhir gue. Orang tua gue punya cerita cinta yang indah sejak sma dan gue pegen kaya mereka. LO mau gak bikin cerita yang lebih indah dari itu?"

Aysa hanya mengangguk

"Pa, kenalin, ini cinta pertama aku yang pernah aku ceritain ke papa, tapi sayangnya dia keburu pindah ke luar kota, tapi sekarang dia udah balik lagi pa... dan dia juga akan jadi cinta terakhir aku. Aku akan bikin cerita cinta yang gak kalah indah dari cerita cinta papa sama mama."

"Om, nama aku Aysa. Mulai hari ini aku akan selalu menjaga Adrian, tante dan juga Audrey. Om gak usah khawatir lagi."

"Papa dengar kan pa? Pa sekarang kami pulang dulu ya, kasian mama sendiri di rumah. Nanti kami pasti datang kesini lagi pa. Pa, I love you."

***

Dalam perjalan pulang ke rumah gue, gue udah kumpulin segenap keberanian buat nyatain perasaan gue dan kesungguhan niat gue.

"Ay, lo mau gak jadi pendamping hidup gue?"

"Syarat buat jadi pendamping kamu sebenarnya apa?"

"Hem, gak ada syarat buat jadi pendamping aku, karena yang aku mau sudah aku dapatkan, aku Cuma mau kamu sejak dulu kini dan juga nanti."Aysa hanya membalas dengan senyuman yang teramat manis.

"Tapi kita masih anak SMA."kata Aysa

"Yup, karena kita masih belom selesai sekolah, kita punya kewajiban untuk menyelesaikan studi dengan baik dan ini bukan syarat atau pilihan, tapi ini kewajiban. Setelah itu akan melamar kamu dan kita aka terus berlari dan belajar. berlari mengejar impian dan cita-cita kita dan terus belajar untuk saling melengkapi, mengerti dan mencintai. Kamu mau?"

"Aku mau."jawabnya singkat namun jawaban itu sudah cukup bagi gue.

It's a life, It's a love. Itulah hidup, itulah cinta. Gak perlu syarat apapun untuk menjadikannya sempurna. Selama ketulusan satu sama lain itu ada maka kesempurnaan pasti terwujudkan. Meski kadang ada yang datang kembali dan ada yang pergi meninggalkan. It's a life, It's a love, tetaplah semangat seperti kami.

"Setelah lulus sma kamu akan lanjut kemana?"tanya Aysa

"Aku akan masuk kuliah kedokteran, kalau kamu?"

"Kalau kamu jadi dokter nanti, aku akan jadi penulis, aku akan bisa bekerja dari rumah bisa jagain mama sama audrey juga."kata Aysa

"Dan jagain anak-anak kita juga dong"gue coba meledek Aysa

"Apaan sih..."Aysa cuma tersipu malu. Ini kisah gue dan gue selalu berdoa agar kisah ini bahagia selamanya.

THE END

Tuesday, 8 July 2014

Eid 2013

Ami Muchdar Assegaf sama cucu tersayang Wan M. Fiqih Al-Hinduan 

Ami n My Brother Roman Januarisman Al-Qadrie a.k.a Aries

Ami foto ama amoy nigh...hehe, eittsss itu gue (kalau pengen liat Archi (arab china) ini nih buktinya), hehe...

Ami wa Umi, Murjanah AlQadrie

Taraaaaaaaaaaaaa........ ini Umi, Akhi, Ami, n Meeee........ :D 

Ami n his son nih... Bang Ermansyah Assegaf

gak jelas fotonya -_-

Selain gue, akhi gue, n ami gue, tuh ada lagi, sepupu gue, anaknya ami yang paing bontot ama dia lagiii (si kecil Fiqih). Yang Pink itu anak ami sekaligus uminya Fiqih, Emelda Assegaf :)

Ini duo anak sholeh insyaallah :) Sy. Zildan AlQadrie n Wan M.Fiqih AlHinduan

Ini kakak Zildan yang ke dua (kata dia, dia mirip gue) namanya Syf. Zakiah Salsabila AlKadrie